Trauma Pada Orang Dewasa yang Sering Tidak Disadari
Written by PEACE Author
Pernahkah Anda merasa harus selalu kuat, sangat takut melakukan kesalahan, sangat panik ketika menghadapi kepastian, atau terus memikirkan kemungkinan terburuk yang belum tentu terjadi? Banyak orang dewasa menganggap kondisi ini adalah bagian dari kepribadian atau sekadar stres ringan karena kelelahan akibat rutinitas sehari-hari. Namun, banyak yang belum tahu kalau masalah emosional yang kerap muncul di usia dewasa seringkali menjadi sinyal bahwa ada luka masa lalu yang belum selesai. Kita mungkin lebih sering mendengarnya sebagai trauma.
Lebih Dari “Merasa Sedih”, Kenali Trauma Psikologis
Trauma adalah respons emosional terhadap peristiwa yang mengerikan seperti kecelakaan, kejahatan, bencana alam, kekerasan fisik atau emosional, penelantaran, mengalami atau menyaksikan kekerasan, kematian orang terkasih, perang, dan peristiwa lainnya (American Psychological Association, 2018).
Di dalam dunia psikologi klinis, trauma pada orang dewasa secara umum dibagi menjadi dua kategori besar (Shapiro, 2013):
- Trauma Besar (Big ‘T’ Trauma), yaitu trauma yang disebabkan oleh peristiwa tunggal yang besar dan berdampak signifikan secara instan. Misalnya: kekerasan fisik, pelecehan, kecelakaan atau menjadi korban kejahatan.
- Trauma Kecil (Small ‘t’ Trauma), yaitu trauma kecil yang seringkali kasatmata, namun terjadi secara berulang dalam jangka waktu yang panjang. Misalnya: perceraian orang tua, perundungan atau bullying di masa sekolah, atau berulang kali mendapat pelecehan secara verbal.
Meskipun penyebabnya berbeda, dampak kedua jenis trauma ini seringkali terbawa hingga usia dewasa. Dampak ini tercermin pada bagaimana kita berpikir dan bereaksi terhadap sesuatu di kehidupan sehari-hari.
Lantas, bagaimana cara mengetahui bahwa luka tersebut masih hidup di dalam diri kita sekarang? Yuk, ketahui ciri-ciri trauma psikologis pada orang dewasa yang sering kali tidak kita sadari.
Ciri-Ciri Adanya Trauma Psikologis pada Orang Dewasa
Trauma yang belum sembuh akan menguras energi tanpa kita sadari, sehingga seseorang lebih rentan menjadi emosional ketika suatu hal yang tidak nyaman terjadi. Berikut adalah beberapa perilaku yang bisa dihasilkan dari trauma:
- Punya Pola Hubungan yang Tidak Sehat
Banyak orang dewasa yang belum pulih dari trauma merasa sulit dalam menjalin pertemanan atau hubungan romantis yang sehat. Mungkin saja mereka memiliki ketakutan yang sangat mendalam akan ditolak atau diabaikan, sehingga menciptakan ketergantungan berlebih pada pasangan, atau menolak untuk berkomitmen. - Sulit Menolak atau Berkata “Tidak”
Jika Anda sering merasa cemas berlebihan saat menolak permintaan orang lain, itu tandanya Anda adalah seorang people pleaser. Kecenderungan ini bisa berasal dari trauma juga, karena ingin terus-menerus menghindari konflik, mendapatkan rasa aman, atau mendapat pengakuan atau validasi dari lingkungan sekitar. - Respons Emosional yang Ekstrim
Trauma yang belum pulih sangat bisa mengganggu sistem regulasi emosi di dalam otak kita, sehingga seseorang bisa menjadi sangat sensitif akan pemicu sekecil apapun. Sebaliknya, ada pula orang dewasa yang merespons trauma dengan cara mematikan rasa emosional mereka, sehingga sulit merasakan kebahagiaan atau empati yang tulus. - Gejala Fisik Tanpa Penyebab Medis (Psikosomatis)
Tak hanya berdampak ke jiwa, trauma psikologis yang dipendam sering kali berubah menjadi keluhan fisik kronis. Ini mencakup sakit kepala tegang, insomnia, hingga kelelahan yang ekstrim.
Langkah Awal Pemulihan Trauma
Otak dan tubuh kita memiliki kemampuan luar biasa untuk pulih jika diberikan ruang dan metode yang tepat. Menyadari dan menerima kondisi tersebut merupakan sebuah langkah pertama menuju pemulihan. Yang penting, Anda selalu ingat bahwa pulih dari trauma adalah hak Anda sepenuhnya. Untuk memulai perjalanan pulih, beberapa langkah awal yang bisa Anda lakukan adalah:
- Mengenali Respon Terhadap Stres
Sebelum mulai pemulihan, seseorang perlu memahami reaksi tubuh dan pikiran ketika merasa stres, terutama stres yang disebabkan oleh hal traumatis. Proses ini disebut sebagai psychoeducation, dan merupakan suatu langkah yang lebih efektif dalam mengurangi gejala stres karena trauma. Beberapa caranya adalah dengan journaling di buku catatan atau menulis di aplikasi catatan pada smartphone Anda. - Praktik Mindfulness
Ini bermanfaat untuk menghindari reaksi yang meledak ketika merasakan stres, seperti membentak orang lain atau melukai diri sendiri. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Psychotherapy Research, praktik mindfulness ini bisa membuat orang dengan gejala trauma merasa aman (Wästlund et al., 2023). Beberapa caranya adalah breathing exercise dalam hitungan detik atau meditasi singkat ketika sedang merasa stres. - Mempertimbangkan Konseling dengan Profesional
Mengambil langkah awal untuk diri sendiri adalah sebuah upaya yang bagus, namun terkadang proses penyembuhan trauma membutuhkan dukungan dan arahan dari para ahli. Jika Anda merasakan kesulitan dalam menjalankan intervensi pada diri sendiri, konseling dengan ahli bisa menjadi langkah selanjutnya.
Ambil Langkah Pemulihan Bersama PEACE
Pulih dari trauma masa lalu adalah perjalanan yang panjang dan seringkali tidak mudah, tetapi Anda tidak harus berjalan sendirian. Ketika butuh panduan, atau dukungan profesional, PEACE hadir sebagai ruang aman Anda dalam pemulihan. Melalui layanan Konseling & Terapi Profesional untuk Dewasa, para psikolog PEACE bisa membimbing Anda dalam mengenali akar trauma dan membangun cara mengatasinya dengan sehat.
Untuk konsultasi dan janji temu dengan kami hubungi:
PEACE (Psycho Educational Assessment Center of Excellence)
Jakarta, Indonesia
Klik WhatsApp di sini: +62-811-1427-880
